Estafet Monoteisme

Dokumentasi Pribadi
Monoteisme dapat dipahami secara umum sebagai ajaran agama yang memercayai Keesaan/Kemahatunggalan Tuhan. Sejarah mencatat, dalam kepercayaan agama-agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam) telah berulang kali konsep monoteisme disalah pahami yang berujung pada lahirnya politeisme maupun henoteisme.

Mu’arif mencoba untuk menjelaskan bagaimana monoteisme telah berkembang dan menjadi bagian dari kepercayaan agama-agama samawi. Ia berpendapat bahwa pemahaman kaum Muslimin-khususnya di Indonesia-terhadap latar belakang historis-kultural agama-agama samawi kurang. Sehingga, menganggap bahwa Islam lahir sebagai agama baru, tanpa ada kaitannya dengan agama samawi yang lainnya (Yahudi dan Nasrani). Padahal, ketiganya berkelit-kelindan dimana Yahudi yang dibawa Nabi Musa As. dilanjutkan estafet monoteismenya dalam Nasrani yang dibawa Nabi Isa As. kemudian berakhir dan disempurnakan di dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Ketiga agama tersebut lahir dari satu pemahaman yang sama yakni konsep Keesaan Tuhan yang dibawa oleh Nabi Ibrahim As. Ajaran-ajaran Nabi Ibrahim As. (Abrahamic Faith/Hanifiyah) menjadi tonggak dalam lahirnya konsep monoteisme.

Nabi Ibrahim As. lahir di kota Ur, kota yang merupakan salah satu pusat kebudayaan penting di Mesopotamia. Setelah menguasai kota tersebut dari tangan bangsa Sumeria, bangsa Akkad tetap melanjutkan tradisi sebelumnya, termasuk dalam hal kepercayaan. Bangsa Akkad pada awalnya merupakan bangsa nomaden, namun setelah berhasil menguasai kota Ur, kehidupannya mulai menetap dan menemukan peradaban baru.

Setelah cukup makmur, bangsa Akkad mulai memikirkan kebutuhan lain yang dirasa membantunya dalam menjalankan kehidupan. Mulai lah mereka mencari kebutuhan tersebut dan menemukan bahwa kebutuhan tersebut berupa kebutuhan terhadap sesuatu yang ‘lian’. Mulai lah tradisi memercayai dewa-dewa muncul sebagai representasi bagi sesuatu yang lian tersebut. Dewa venus (kecantikan), Shamash (Matahari), Sin (Bulan) adalah beberapa hal yang mereka agungkan sebagai kebutuhannya.

Nabi Ibrahim As. berbeda pola pikir dan keyakinannya dengan kaumnya. Ia hanya menyembah Tuhan Yang Satu, yang sifatnya imanen dan transenden, yang wujud-Nya tidak dapat diserupakan dengan benda-benda. Tuhannya tidak dapat dipahami dengan perspektif asosiasi pikiran manusia. (hal. 76)

Sebelum meninggal dunia, Nabi Ibrahim As. berwasiat kepada Nabi Ismail As. dan Nabi Ishaq As. beserta keturunan keduanya agar tetap berpegang teguh kepada ajaran keyakinannya atau agar jangan mati kecuali dalam keadaan ‘berserah diri’.  Al-Qur’an merekam wasiat Nabi Ibrahim As. tersebut, “Hai Anak-anakku! Sesungguhnya, Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka, janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” QS. Al-Baqarah/2:132).

Nabi Musa As. sebagai pembawa risalah ajaran Yahudi di akhir hayatnya sempat mengutarakan bahwa suatu saat akan datang seseorang yang akan menjadi “juru selamat” atau dikenal dengan istilah Messiah.

Perlu diketahui, sebelum wafat, Nabi Musa As. mengabarkan tentang berita kenabian terbesar yang akan mengakhiri seluruh estafet kenabian samawi. Ia sang Messiah dan seorang raja dari Kerajaan Tuhan di Bumi (hal. 183). Berita tersebut menimbulkan pro-kontra dikalangan kaum Yahudi. Sebagian meyakini Sang Messiah datang dari kaumnya (Bani Israel), sebagian yang lain meyakini bahwa Sang Messiah muncul dari luar kelompok mereka.

Berita Sang Messiah yang akan muncul bukan merujuk kepada Nabi Isa As. berdasarkan sumber-sumber biblikal, sosok Nabi Isa As. tidak mengakui sebagai Sang Messiah sebagaimana yang diberitakan Nabi Musa As., sebab nabi terakhir yang akan mengakhiri estafet kenabian akan muncul di Jazirah Arab bukan di Palestina.

Para rahib Yahudi menolak kenabian Isa As. dan menolak ajaran Nasrani yang merupakan kelanjutan dari ajaran monoteisme yang sebelumnya di sampaikan Nabi Musa As. melalui ajaran Yahudinya. Pun begitu ketika Nabi Isa As. menyampaikan risalahnya yang menyebutkan bahwa akan hadir nabi selanjutnya dan yang terakhir bernama Ahmad, kaum Nasrani tidak menerimanya.

Namun, baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang menolak kenabian dari Isa As. maupun Muhammad Saw.. Diantara kaum yang menerima bahwa ajaran Nasrani sebagai lanjutan risalah monoteisme samawi adalah Sekte Essenes. Sekte ini merupakan kaum yang berpegang teguh pada ajaran Yahudi autentik yang merupakan estafet monoteisme samawi dari Nabi Ibrahim As.

Begitu pula saat ajaran Nasrani berkembang, ialah kaum Hawariyyun yang memegang teguh monoteisme samawi autentik. Kaum Hawariyyun merupakan cikal-bakal komunitas Muslim yang menerima risalah Nabi Muhammad Saw. di Madinah. Risalah kenabian Nabi Muhammad Saw. bukanlah ajaran baru, melainkanpenyempurna ajaran-ajaran langit (samawi) sebelumnya. Nabi Muhammad Saw. tidak menafikan ajaran-ajaran sebelumnya, seperti yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim As., Nabi Musa As., dan Nabi Isa As.

Kenabian Nabi Muhammad Saw. bertujuan untuk meluruskan kembali ajaran-ajaran monoteisme samawi yang telah terkontaminasi oleh tradisi-tradisi paganistik. Di Makkah, Nabi Muhammad Saw. bertugas meluruskan ajaran Hanifiyah yang telah terkontaminasi budaya-budaya Romawi dan Persia. Di Madinah, Nabi Muhammad Saw. berhasil membangun peradaban baru yang berasaskan ajaran monoteisme samawa autentik.

Secara garis besar, buku Monoteisme Samawi Autentik telah memaparkan ihwal monoteisme yang berkembang sejak ajaran Nabi Ibrahim As.. Buku ini terdiri dari tiga bagian utama. Bagian kesatu, membahas perihal monoteisme samawi. Terdiri dari empat bab yang menguraikan penjelasan tentang asal-usul monoteisme samawi; bapak monoteisme samawi; keturunan Nabi Ibrahim As.; serta tradisi Nabi Ibrahim As..

Bagian kedua, membahas perihal Bangsa Yahudi. Dimulai sejarah lahirnya bangsa tersebut; penindasan yang dialami kaum Yahudi; doktrin messianisme yang menganggap akan datang sang juru selamat di kemudian hari; perjalanan Nabi Musa As hingga muncul Nabi Isa As.; serta kaum pembaharu di tiap agama yakni sekte essenes yang menjadi cikal bakal kaum Nasrani, kaum Hawariyyun yang menjadi cikal bakal kaum muslim, dan umat Islam dikemudian hari berkembang sebagai umat akhir zaman.

Bagian ketiga, membahas tentang monoteisme samawi autentik yang menjadi tesis utama dalam buku ini. Dimulai dengan penggambaran jazirah Arab; kondisi Arab sebelum masuknya Islam; sejarah kota Makkah; permasalahan demografi di kota Makkah; penjelasaan terkait Muhammad dan Ahmad dimana risalah Nabi Isa As. yang menyebutkan akan hadir penerus ajaran monoteisme bernama Ahmad yang dikemudian hari memunculkan klaim terkait sosok nabi terakhir bernama Ahmad bukan Muhammad oleh sekelompok orang; serta misi kenabian terakhir yang diemban oleh Nabi Muhammad Saw.

Seperti disebut sebelumnya, risalah kenabian Nabi Muhammad Saw. bukanlah ajaran baru, kenabiannya merupakan estafet kenabian samawi sebelumnya dengan sebuah “Rumah Indah” yang dindingnya masih belum sempurna. Masih terdapat celah yang belum terisi oleh tatanan batu batanya. Dan, Nabi Muhammad Saw. diturunkan untuk menyempurnakan celah dari “Rumah Indah” tersebut.

Jadi, peran dan posisi Nabi Muhammad Saw. adalah menyempurnakan dan sekaligus menutup seluiruh aliran wahyu Tuhan dan ajaran samawi kini sudah final. Oleh karena itu, suatu bangunan ajaran yang telah sempurna tidak mensyaratkan munculnya nabi atau rasul pasca Nabi Muhammad Saw. risalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah risalah monoteisme samawi autentik yang telah sempurna. Sebagaimana firman Allah Swt. Yang terakhir sebagai penutup ajaran monoteisme samawi autentik ini. “...Pada hari ini, telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku Ridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah/5:3).


Identitas Buku
Judul                 : Monoteisme Samawi Autentik
Penulis              : Mu’arif
Penerbit            : IRCiSoD
Tahun Terbit     : Cetakan Pertama. Mei 2018
Tebal                 : 340 halaman
ISBN                  : 978-602-7696-50-1

Comments

Popular posts from this blog

Islam sebagai Dasar Negara - Mohammad Natsir

Mainkan Jarimu dan Tunggu Ia Menghampirimu

Tuhan Tidak Perlu Dibela